Sunday 18 July 2010

a 'See You Later' Note

Besok senin, masuk minggu ketiga saya cuti.
Sebenernya saya masih punya jatah 1 minggu lagi, kalau saya mau menuhin 1 bulan. Tapi saya kira sudah cukuplah waktu saya untuk proses pemulihan fisik dan mengikhlaskan apa yang terjadi kemarin. Sudah cukup juga saya leyeh-leyeh di kamar selama 3 minggu penuh, bangun siang, nonton DVD, browsing internet dan main Nintendo DS. :D

Saya rasa ini bukan waktu cuti yang berlebihan, mengingat mood swing saya yang ternyata di luar dugaan. Engga juga kurang, karena saya ngerasa udah cukup ngelewatin berbagai proses adaptasi pasca kuret. Dan akhirnya sekarang saya bukan lagi di tahap 'learning to let go' tapi lebih ke tahap 'learning to compromise with evil mouths' :P

Udah gak sabar lagi ketawa-ketiwi sama temen-temen kantor, berkarya lagi dan ngelakuin hal-hal lain yang kemarin sempet ketunda lama karena peristiwa ini.

Sekarang saya tinggal nunggu siklus haid saya datang lagi dan insya Allah nanti dikasih jalan yang terbaik :)

Kalau boleh jujur, sekarang sih saya sedikit takut untuk memulai lagi. Too much 'what ifs' berputaran di kepala saya. Gak nyangka juga saya bisa punya beban kayak gini, padahal kemarin-kemarin saya kayaknya gak takut untuk nyoba lagi. Tapi ternyata emosi itu bisa berubah-ubah ya. :P Tapi ya lagi-lagi... mudah-mudahan ini emang proses psikologis yang normal. All I can do is making peace with myself.


So I guess this is (not) a good bye then, more like a 'see you later', ya :)

Hoping to write this blog anytime soon :)
Keep an eye for any kind of good news, okay?

Tuesday 13 July 2010

Not Feeling Good

Tadinya saya sempet kepikiran untuk masuk kantor hari ini.
Cuma pas kebetulan banget, kakak ipar saya yang pilot baru pulang, trus ngajakin family vacation ke Bandung weekend ini, "mumpung masih weekend terakhir sebelum anak-anak masuk sekolah" katanya. Ya udah, so far saya udah ngerasa badan saya fit, trus saya tau banget si papa sebenernya pengen jalan-jalan ke Bandung sekeluarga... jadi saya pikir ya udahlah berangkat aja. Walaupun terkesan dipaksain karena sejujurnya lagi bokek dan mendadak banget, tapi mumpung masih bisa jalan-jalan bareng, kenapa enggak. Lagian itung-itung sekalian pemanasan sebelum masuk kantor.

Berhubung dadakan, jadi semua serba darurat dan unorganized. Berangkat dengan mobil seadanya, umpel-umpelan. Tidurpun gak sebanding antara jumlah orang dan tempat untuk tidur. Acaranya pun awut-awutan, yang orang tua mau makan di sini, yang anak-anak mau makan di sana, yang muda-muda tinggal bengong. Belom lagi tambah seru karena jalanan Bandung yang muter-muter dan semakin macet ruwet kayak Jakarta. Lumayan hectic-lah pokoknya. Misua juga pake acara pundung... gak suka kali ya dia liat keluarga saya. Tapi ya udahlah demi kebersamaan, acakadut-acakadut begini biar gimana tetep keluarga saya. Kadang kita suka bela-belain sesuatu buat orang lain, kenapa gak sekali-sekali buat orang tua, ya nggak? :)

Cuma ya itu... imbasnya minggu malam kemarin saya pulang dengan badan yang rasanya seperti remuk di seluruh badan. Rasanya seperti abis digebukin sama 10 orang bersamaan. Pagi harinya badan saya langsung demam, memang gak terlalu tinggi, tapi berputar di angka 37,5 terus menerus sepanjang hari. Kepala saya pusing bukan main. Dan sampai tadi malam saya masih gak bisa tidur karena pusing dan menggigil.

Saya gak tau itu sebenernya gejala apa. Memang tenggorokan rasanya agak terbakar sedikit, seperti mau radang. Tapi rasa pusingnya jauh lebih hebat dibanding rasa sakit di tenggorokan. Untung hari ini saya lebih enakan. Udah gak menggigil lagi, tapi masih pusing sedikit. Mudah-mudahan bukan sesuatu yang serius dan cuma kecapekan aja.

Masuk kantornya ketunda lagi deh.
Huhuhu...

Friday 9 July 2010

Blighted Ovum

Sebuah artikel yang padat dan jelas tentang janin yang gak berkembang, atau yang biasa disebut dengan 'blighted ovum' sama orang londo. Saya dapetnya dari sini, kurang lebih sih isinya sama kayak penjelasan pak dokter. Hope it helps. :)



Blighted Ovum

Chances are you didn’t even know you were pregnant or had just found out you were expecting when you received the shattering news that there is no visible developing embryo on the ultrasound. You are probably feeling sad and confused. As you take time to understand what this means, also take time to grieve as you would for any loss. And remember you are not alone.

What is a blighted ovum?

A blighted ovum (also known as “anembryonic pregnancy”) happens when a fertilized egg attaches itself to the uterine wall, but the embryo does not develop. Cells develop to form the pregnancy sac, but not the embryo itself. A blighted ovum usually occurs within the first trimester before a woman knows she is pregnant. A high level of chromosome abnormalities usually causes a woman’s body to naturally miscarry.

How do I know if I am having or have had a blighted ovum?

A blighted ovum can occur very early in pregnancy, before most women even know that they are pregnant. You may experience signs of pregnancy such as a missed or late menstrual period and even a positive pregnancy test. It is possible that you may have minor abdominal cramps, minor vaginal spotting or bleeding. As with a normal period, your body may flush the uterine lining, but your period may be a little heavier than usual.

Many women assume their pregnancies are on track because their hCG levels are increasing. The placenta can continue to grow and support itself without a baby for a short time, and pregnancy hormones can continue to rise, which would lead a woman to believe she is still pregnant. A diagnosis is usually not made until an ultrasound test shows either an empty womb or an empty birth sac.

What causes a blighted ovum?

A blighted ovum is the cause of about 50% of first trimester miscarriages and is usually the result of chromosomal problems. A woman’s body recognizes abnormal chromosomes in a fetus and naturally does not try to continue the pregnancy because the fetus will not develop into a normal, healthy baby. This can be caused by abnormal cell division, or poor quality sperm or egg.

Should I have a D&C or wait for a natural miscarriage?

This is a decision only you can make for yourself. Most doctors do not recommend a D&C for an early pregnancy loss. It is believed that a woman’s body is capable of passing tissue on its own and there is no need for an invasive surgical procedure with a risk of complications. A D&C would, however, be beneficial if you were planning on having a pathologist examine the tissues to determine a reason for the miscarriage. Some women feel a D&C procedure helps with closure, mentally and physically.

How can a blighted ovum be prevented?

Unfortunately, in most cases a blighted ovum cannot be prevented. Some couples will seek out genetic testing if multiple early pregnancy loss occurs. A blighted ovum is often a one time occurrence, and rarely will a woman experience more than one. Most doctors recommend couples wait at least 1-3 regular menstrual cycles before trying to conceive again after any type of miscarriage.

Thursday 8 July 2010

Another Bad News

Hari ini salah seorang sahabat saya dari SMP, Isty harus masuk rumah sakit karena di kehamilannya (yang sekitar) 5 minggu, terus mengalami flek.

Dan baru saja tadi saya dengar kabarnya, bahwa ia harus segera dikuret karena kasus yang sama seperti saya. Sedih banget dengernya. :( Mudah-mudahan dia dan suaminya diberi ketabahan dan kesabaran untuk melewati semua ini.


God does work in a mysterious way.

Saturday 3 July 2010

Forum seputar Keguguran & Kuret

Untuk temen-temen yang kebetulan punya pengalaman yang sama kayak saya, saya baru aja nemu forum yang topiknya seputar keguguran, kuret, janin gak berkembang dan sebagainya.

Lumayan banget untuk mengobati luka psikis saya, bikin saya ngerasa gak sendirian di dunia ini, bikin saya pede lagi ngelanjutin hidup tanpa harus musingin komen-komen orang yang bikin saya malah bikin makin pesimis dan kepikiran yang enggak-enggak. Saya jadi tau mana yang sebenarnya harus saya khawatirin dan mana yang enggak. Senangnya punya teman berbagi :')

Saya percaya kata dokter dan saya percaya kebesaran Tuhan.
Kalau kata dokter ini faktor seleksi alam dan hanya Tuhanlah yang memegang kuasanya, saya ikhlas.

Mudah-mudahan yang lain juga bisa ikhlas atas keikhlasan saya.

>> link forum

Friday 2 July 2010

Kontrol Pasca Kuret

Ada beberapa orang yang mempertanyakan kesimpulan dokter saya tentang faktor "seleksi alam" yang terjadi sama janin saya. Beberapa dari mereka kayaknya gak terima kenapa seorang dokter gak bisa ngejelasin secara medis, apa yang sebenarnya terjadi sama kehamilan saya.

Jujur saya gerah denger komen-komen seperti itu. Saya tau sih mereka gak ada niat untuk ngejatohin mental saya. "mereka cuma mau ngasih tau yang terbaik buat saya". Cuma saya juga gak nyangka, ternyata omongan-omongan seenteng itu bisa bikin hidup saya semakin berat.

Setelah seminggu saya dikuret, mereka selalu ngingetin saya untuk minta penjelasan ke dokter sejelas-jelasnya mengenai keadaaan saya. Apa saja yang harus saya lakukan supaya suatu saat saya hamil lagi, hal ini gak terjadi lagi. Baik sih memang, saya sendiri gak nyangka hal seperti ini bisa jadi beban mental buat saya.

Tadi saya ke dokter lagi untuk kontrol. Saya pikir, sudah cukuplah drama seru saya pas harus daftar dokter di KMC kemarin. Ternyata hari ini gak kalah serunya.

Dimulai dari misua yang telat jemput saya karena asik-asik download film sepeda. Bukannya apa-apa, saya padahal udah wanti-wanti sama dia, kalo kita jangan sampe telat ke dokter. Pertama gak enak sama dokternya, trus kita ngantrenya bisa makin lama, ditambah hari ini Jumat dan mau ujan, kalo macet pasti gak tanggung-tanggung. Jadilah saya manyun pas tau misua telat.

Sampe KMC, ternyata nama saya belom didaftarin. Gak tau mas-mas yang kemaren BT sama saya, trus pura-pura kelupaan masukin nama saya atau gimana, saya gak ngerti deh. Pokoknya saya udah males marah-marah dan ngomong yang perlu-perlu aja sama resepsionisnya, tentu aja gak pake senyum. Untung akhirnya tetep bisa masuk.

Ga lama nunggu, akhirnya nama saya dipanggil juga. Ketemu sama dokternya, dicek dalem... dan akhirnya saya dinyatakan bersih. Hasil patologinya bilang bahwa janin saya gak berkembang karena gak ada pembuluh darahnya. Tapi ini artinya bukan sesuatu yang membahayakan. Bukan juga gejala tokso, rubella dll karena biasanya kalau kasus itu janin tetap berkembang, tapi ada yang tidak sempurna. Ini kemungkinan besar memang bad chromosome dan mungkin banget terjadi sama siapa aja. Kalo kata dokternya, inilah yang dibilang sebagai 'seleksi alam'. Gak ada obat yang harus saya minum, gak ada makanan khusus yang harus saya makan dan sebagainya. Saya boleh mencoba hamil lagi setelah saya haid 1x. Dan apabila hal ini terjadi lagi, maka saat itulah dokter bilang saya dan misua perlu tes kromosom.

Jujur saya sangat percaya dengan kebesaran Allah SWT dan saya percaya dengan penjelasan dokter yang menurut saya masih bisa diterima oleh akal sehat. Jadi saya percaya dengan apa yang namanya seleksi alam. Sekarang saya ikhlas seada-adanya, dan Insya Allah besok-besok pun saya masih ikhlas. Yang saya gak mengerti adalah... bagaimana caranya menjelaskan ini kepada orang-orang yang gak puas dengan penjelasan dari dokter saya ini.

Akhirnya saya pulang dengan perasaan campur aduk. Sebel sama misua yang cuma mikirin sepeda, seneng karena secara fisik saya udah dinyatakan pulih, kesel karena saya masih punya beban untuk ngejelasin semua ini ke orang-orang itu dan sedih karena gak tau harus numpahin semua ini ke siapa.

Jadilah saya nangis sesenggukan semaleman penuh tanpa tidur dan hanya memeluk guling. Rasanya lebih sedih daripada kehilangannya itu sendiri. Hati saya rasanya mau meledak, gak ngerti harus minta tolong ke siapa. Apa masih perlu, saya ngejelasin semua itu ke mereka dan berusaha ngeyakinin mereka kalau mereka kalau kenyataannya ya memang seperti ini.

Ini kan badan saya, rumah tangga saya, kehilangan saya, sedih saya. Sebenernya saya gak punya kewajiban apa-apa untuk ngejelasin apapun ke mereka. Tapi gak tau kenapa saya ngerasa helpless banget. Saya lagi gak punya kekuatan untuk bikin benteng sendiri.

Dan sayangnya saya akan terus berhubungan dengan mereka. Saya gak bisa pura-pura gak denger dan tersenyum terus. Gak boleh juga saya marah-marah di depan mereka, karena nanti dibilang gak sopan. Pahit itu harus saya telan bulat-bulat.

Ya ampun cengeng sekali saya. Apa emang dokter udah tau hal-hal seperti ini mungkin terjadi, makanya dia ngasih saya cuti yang lumayan panjang ya... Ternyata pemulihan mental pasca kuret jauh lebih berat ketimbang pemulihan fisik. Dan sayangnya gak ada obatnya. :(

Kayaknya saya harus banyak bersabar aja...

Thursday 1 July 2010

Kata misua, luka dalam itu gak ada obatnya.

Obat-obat yang dikasih dokter itu,
cuma buat ngilangin rasa sakit dan mencegah infeksi.

Luka di dalam tubuh itu akan sembuh secara alami,
tergantung dari daya tahan tubuh masing-masing orang.


Sayangnya,
ternyata luka dalam saya itu bukan berada di rahim saya,
tetapi di hati saya.


Sekarang saya mengerti,
kenapa dokter memberi saya waktu istirahat yang panjang.





Jaka Sembung Bawa Golok

Kalau boleh, saya hari ini mau marah-marah.


Seperti yang sudah diinfokan susternya begitu saya selesai kuret. Dia bilang saya dijadwalkan untuk kontrol lagi ke dr. Achmad tepat seminggu dari hari Jumat kemarin, yaitu tanggal 2 Juli 2010 jam 17.00. Sebagai orang yang baru sadar dari bius total, tentu saya ngangguk-ngangguk aja. Dia bahkan nulis langsung tanggal dan jam kontrolnya di sebuah kertas yang katanya nanti harus saya bawa pas saya kontrol. Jadilah saya yakin banget kalau nanti saya tinggal dateng ke KMC hari Jumat jam 5 sore.

Kemarin saya ditelpon (tapi tidak sempat saya angkat karena lagi tidur), dan di SMS dari pihak KMC yang memberitahu kalau hasil patologi saya sudah selesai dan bisa ditanyakan ketika saya kontrol. Karena saya pikir agak konyol membalas SMS dari nomor rumah sakit dan tidak tahu siapa nama orang yang meng-SMS, akhirnya saya memutuskan untuk menelpon langsung KMC untuk mengkonfirmasi hasil patologi saya tersebut.

Begitu tersambung, saya langsung berbicara dengan seorang mas-mas (saya lupa nanya namanya). Saya tanya tentang hasil patologi saya tersebut, tapi dia menjawab enteng dan bilang wah saya kurang tahu tuh, harusnya ibu hubungi lantai 2. Lah dalem hati saya, situ kan resepsionis, harusnya dia kan yang nyambungin saya ke lantai 2, atau paling gak ngomongnya lebih enakan dikit gitu. Mana saya tau kalo nanya begituan harus nanya ke lantai 2. Sepele sih, cuma bikin kita yang tadinya biasa-biasa aja jadi ikutan nyolot.

Akhirnya saya bilang sama dia, ya udah deh mas, nanti saya tanya sama lantai 2. Tapi sekarang mumpung saya nelpon nih, sama mau konfirmasi jadwal kontrol sama dr Achmad hari Jumat besok ya, jam 5. Minggu lalu saya kuret, dan saya dijadwalin untuk kontrol jumat besok jam 5 sore.

Mas: Mmmm... namanya siapa bu, nomor kartu?
Setelah saya bilang nama dan nomor kartu saya
Mas: Waduh maaf nih bu, tapi nama ibu belum terdaftar di sini
Saya: Laaaah gimana sih mas? Waktu itu katanya saya udah dijadwalin untuk kontrol hari Jumat jam 5 sore. Komplit banget lagi tuh pake jamnya segala, saya kira saya bisa langsung dateng.
Mas: Iya ibu, tapi peraturan di sini, walaupun ibu kuret di sini, ibu tetep harus daftar lagi ke kita.
Saya: Ya kalo emang peraturannya gitu, jelasin yang bener dong mas. Kalo saya dikasih tau dari waktu itu kalo saya harus daftar lagi, ya saya pasti udah daftar lagi dari kapan tau. Emang saya ikut training di situ apa bisa tau prosedur-prosedur kayak gituan. Kalo ga dibilangin, ya mana saya tau!
Mas: (tetep ga menyelesaikan masalah) iya, tapi peraturannya memang begitu ibu.
Saya: Trus sekarang solusinya apa? Saya bisa dateng kontrol kapan jadinya?
Mas: Waduh... selasa penuh... rabu juga penuh, ya paling jumat depan nih bu.
Saya: Trus saya harus mundur seminggu dari jadwal diharuskan. Kalau saya sampe kenapa-kenapa di antara waktu itu gimana mas?
Mas: Ya kalo mau ibu telpon dr Achmad aja langsung. Kalau saya gak berani nambah-nambahin pasien lagi.
Saya: Ya udah masukin aja saya di jumat depan, nanti saya coba tlp dr Achmad. Pokoknya saya cari yang paling cepet aja deh.
Mas: Baik bu.
Saya: (Masih belom puas ngomel) Mas, lain kali tolong ya pasiennya dikasih informasi sejelas-jelasnya. Kalau secara lisan gak bisa konsisten, bikin peraturan tertulis atau apa kek, jadi kita juga gak merasa dirugikan karena hal-hal sepele kayak gini.

Bukannya apa-apa, saya ngerti kok tiap rumah sakit punya aturannya masing-masing. Nah tapi kan justru karena aturan yang beda-beda itu, kita perlu dikasih tau sejelas-jelasnya, gimana sebenernya aturan di rumah sakit itu. Supaya kita juga bisa ngikutin aturannya dengan bener.

Bukannya apa-apa, ini udah kali kedua sama sebel sama KMC gara-gara resepsionisnya.

Yang pertama, pas saya mau daftar dr. Achmad pertama kalinya.

Saya: mba, Jumat ini saya bisa daftar dr Achmad ga?
Mba: wah udah penuh tuh mba
Saya: Kalo minggu depan?
Mba: Nah kalo minggu depan masih kosong nih mba. Mba malah bisa milih mau dateng jam berapa. Walaupun nanti tetep sistem siapa dateng duluan, masuk duluan sih mba.
Saya: Oh gitu? Kalau gitu jam 6 deh mba.
Mba: Oke. Namanya siapa mba? Nomor kartu?
Saya: Nanda. Pasien baru mba.
Mba: Oh ya udah nanti pas dateng bikin kartu baru ya mba, biayanya 15.000. Nomor yang bisa dihubungi?
Saya: xxxxxxxxxx
Mba: oke mba, nanti langsung dateng aja ya.

Seminggu kemudian, hari Jumat siang, saya iseng nelpon KMC mau konfirmasi.

Saya: mba, saya mau konfirmasi ya. Nanti saya mau konsultasi dengan dr Achmad jam 6
Mba: sebentar ya mba. Namanya?
Saya: Nanda
Mba: Maaf mba, di sini nama mba belom terdaftar.
Saya: Laaaaaaaah? Gimana sih mba??? Saya udah daftar dari minggu lalu loh mba. Malah waktu itu saya pake ditanyain mau yang jam berapa konsultasinya, karena masih kosong. Gimana sih mba? Untung saya pake nelpon dulu. Kalo saya langsung dateng trus tiba-tiba ternyata saya gak terdaftar gimana???
Mba: Iya di sini adanya pasien namanya Naya.
Saya: (Bengong. Ya mungkin aja ada pasien namanya Naya. Saya gak mau juga ngaku-ngaku itu nama saya). Ya saya gak mau tau mba, pokoknya minggu lalu saya udah daftar atas nama Nanda. Kalo ternyata waktu itu mba salah nulis atau lupa nulis nama saya, ya saya gak tau deh harus gimana lagi...
Mba: Ya udah, nanti saya coba cek dulu ya mba. Nanti saya coba hubungin mba lagi. Nomor tlpnya berapa?
Saya: xxxxxxxxxx

5 menit kemudian mba-nya tlp lagi.

Mba: Iya mba Nanda, bener mba terdaftar konsultasi sama dr. Achmad hari Jumat jam 6.
Saya: Tuh kan bener mba. Huuu... gimana sih. Trus bener ya, nanti saya dateng pasti udah didaftarin. Jangan sampe nanti saya dateng taunya nanti disuruh pulang lagi nih mba.
Mba: Iya bener kok mba.

See... hal-hal sepele kayak gitu kan bikin saya jadi buang-buang energi marah-marah siang bolong. Padahal harusnya kan kalo well organized gak perlu kayak gini-gini amat. Dan kalo ternyata saya beneran gak bisa konsultasi hari itu karena kelalaian mbanya, artinya kan saya rugi gak cuma sehari dua hari, tapi seminggu lho.

Saya sebenernya berharap banyak sama KMC karena secara facility mereka memang oke banget. Kalo saya nanti insya Allah hamil lagi, saya juga pengen melahirkan di sana. And to be really honest, suster-suster yang kemarin nanganin saya langsung waktu saya dikuret memang sangat baik dan helpful. Tapi kalo gak mau ujungannya ngomel-ngomel seperti saya, sebaiknya confirm dan re-confirm deh masalah jadwal konsultasi, biar tenang. Karena unexpected things might really happen down there. Mungkin salah saya juga kurang teliti dan parno. Tapi saya mengharapkan dari mereka juga ada perbaikan.

Okay, no hard feelings ya KMC. I'm just trying to be honest here. And I hope you take my critics as a motivation to do improvements here and there.


*Tadi dr Achmad bales SMS saya dan bilang saya besok tetap datang ke KMC jam 5 sore. Fiuh. Untung dokternya baik dan pengertian. Saya gak jadi buang waktu dengan percuma.

Wednesday 30 June 2010

5 days and still counting

Hari ini hari ke 5 saya di rumah setelah kuret. 3 hari pertama sih belum terlalu kerasa karena saya masih under medication, jadi bawaannya masih ngantuk melulu dan masih ada misua yang nemenin karena kebetulan pas weekend. Tapi sekarang, obatnya udah habis dan saya udah bosen banget di rumah terus. Pendarahan dan flek juga udah tinggal dikit banget. Untung keponakan saya yang baik hati minjemin saya nintendo DS dan SP nya... huhuhu saya sampai terharu. Tapi dasar saya gila game, baru 3 hari dimainin satu per satu gamenya tamat :'(.

Sekarang gak tau kenapa, saya jadi susah pup dan mungkin gara-gara itu migren saya jadi ikutan kumat. Padahal udah minum Panadol biru, tapi tetep ga ngaruh. Kalo kata misua sih karena saya lagi gak terlalu banyak gerak, jadi susah pup. Ya mungkin juga sih.

Tadi KMC sms saya bilang hasil patologinya udah keluar. Jadi nanti kalau saya kontrol ke dr. Achmad, saya bisa langsung nanyain hasilnya ke dia. Mudah-mudahan hasilnya bagus ya *crossing finger*.

Haduuuh... trus sekarang saya ngapain dooong? huhuhu

Monday 28 June 2010

Mengenai Istirahat Panjang Setelah Keguguran

UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003
BAB X PERLINDUNGAN, PENGUPAHAN, DAN KESEJAHTERAAN

Pasal 82
1. Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
2. Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.


Padahal udah ada ini, tapi gak tau kenapa rasanya tetep gak enak hati gini ya? :(


-lebih lengkapnya disini-




Sunday 27 June 2010

RSPI, KMC, Gandaria

Sedikit intermezzo...
Selama beberapa minggu kehamilan saya kemarin ini, saya jadi banyak melanglang buana di dunia maya mencari referensi-referensi yang dibutuhkan untuk nyari dokter, rumah sakit, obat dan tips-tips terbaik. Dan dari review-review orang-orang di internet, akhirnya saya bisa menyortir dokter mana yang kira-kira cocok untuk saya dan dompet saya :). Makanya saya pikir, kayaknya review-review seperti ini bagus juga buat di-share :).

Sejauh ini saya baru pernah datang ke dua dokter yang berbeda.

Yang pertama:
dr. Sumanadi SpOG ONK
Dia praktek di RSPI. Katanya juga praktek di RS Asih dan Klinik pribadinya di Jln. Kenanga - Pondok Pinang. Tapi saya baru pernah datang ke RSPI saja. Selain karena lokasinya paling strategis dari rumah ke kantor, saya sudah biasa berobat ke sana.

dr. Sumanadi ini dokter yang melahirkan 3 dari 4 keponakan saya. dan 1 dari 2 keponakan misua. Menurut kakak-kakak saya, dia orangnya sangat ramah dan mau menjelaskan. Tapi entah kenapa, waktu saya ke sana, saya malah gak terlalu banyak dapet informasi. Mungkin harusnya saya lebih banyak bertanya sih, tapi dia pun sepertinya gak mau memberikan info apa-apa kalo saya gak nanya. Kan bahaya kalo saya kelupaan nanya. Apalagi saya orangnya emang lupaan. Mungkin karena sudah mulai berumur kali ya, jadi udah mulai gak seaktif dulu.

Sebenernya sih personally saya merasa dia dokter yang bagus. Tapi saya lagi butuh dokter yang lebih talkative dan mau menjelaskan panjang lebar kepada saya. Saya ini kan pemula, amatiran, masih butuh banyak info.

Biaya konsultasi di RSPI
dr. Sumanadi termasuk di dalam bagian Women & Fetal Diagnostic Center. Kata kakak saya sih soalnya dia memang spesialis kista. Harganya memang sedikit lebih mahal dari poli kebidanan dan tempat prakteknya memang terasa lebih premium.

Konsultasi OBGYN 270.000
USG 2D + Print 160.000
______
Total 430.000

Untuk konsultasi pertama, saya diberi obat:
Premaston 143.600 - untuk memperkuat kandungan
Folic Acid 2.880 - untuk tumbuh kembang syaraf otak

_________________________________________________________________

Yang kedua:
dr. Achmad Mediana SpOG
Praktek di Kemang Medical Care - Kemang (KMC), RS Gandaria dan Klinik pribadinya di Kemang. Sejauh ini saya baru datang ke KMC, karena gedungnya masih baru, modern dan dengar-dengar harganya belum terlalu mahal. Kalau lokasi, jujur memang agak saya paksakan sih :P.

dr. Achmad ini sepertinya memang lagi naik daun. Saya mulai ngeh keberadaan dia waktu kakak ipar saya melahirkan anak keduanya sama dia. Trus ternyata beberapa temen kantor saya juga ada yang datang ke dia. Menurut review yang saya dapat dari internet, juga dia terkenal sangat ramah dan talkative. Sesuai banget sama dengan kebutuhan saya. Kelemahannya hanya satu. Pasiennya banyak sekali, bahkan kalau kita mau konsultasi di RS Gandaria, kita harus booking minimal 2 minggu sebelum jadwal yang kita inginkan. Jadi emang harus banyak sabar mengantri kalau mau konsultasi dengan dia. Di KMC kita juga tetap harus booking dulu, tetapi masih lebih manusiawi, at least seminggu sebelumnya.

Setelah konsultasi dengan dr. Achmad, terbukti bahwa dia memang talkative. Dia menjelaskan panjang lebar kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, kenapa saya bisa punya janin yang gak berkembang. Walaupun pada dasarnya dia bilang, bahwa ini adalah faktor alam. Dia juga mengutamakan pasien-pasien dengan kasus-kasus khusus. Seperti saya misalnya. Saya memutuskan untuk kuret hari Jumat tanggal 25. Ternyata waktu saya bilang ke KMC, mereka bilang kalau dr Achmad akan cuti dari tanggal 25 - 27 dan saya sempet stress karena terpaksa harus reschedule lagi rencana kuret saya. Tapi waktu saya telpon dia, dia malah menyanggupi melakukan kuret tgl 25, pagi hari jam 6 tanpa banyak ba-bi-bu.

Biaya konsultasi di KMC
Konsultasi OBGYN 225.000
USG 2D + print 150.000
______
Total 375.000

Untuk konsultasi pertama, saya kena biaya administrasi untuk bikin kartu dan bayar kondom karena kebetulan waktu itu USG vaginal juga.
Kondom Durex 2.700
Kartu Pasien 15.000


Sempet tanya-tanya, untuk:
USG 3D+print 400.000
USG 4D+CD/print 700.000

Basically dari biaya dua RS ini sih mirip-mirip ya. Ada plus minusnya dua-duanya. Tergantung kebutuhan dan mana yang lebih nyaman di hati aja.


Oh ya,
Sempet nanya-nanya juga di RS Gandaria via telpon :P

RS Gandaria
Konsultasi OBGYN 150.000
USG 2D+print 430.000
USG 4D+print 505.000

Mmm... harganya emang agak janggal sih ya. Enggak tau juga sih benernya gimana, karena saya belom sempet kesana. Tapi mungkin kalo cuma konsultasi aja, enak di Gandaria karena jauh lebih murah. Tapi kalau emang mau pake USG 2D, mending ke KMC aja deh kayaknya. Karena selain lebih nyaman, harganya ternyata gak beda goceng :P

Friday 25 June 2010

Bye com-com :')

Saya, mama dan misua sampai di KMC jam 4 pagi. Sampe sana resepsionisnya lagi tidur di sofa :P. Pantes dari tadi saya telponin ga ada yang ngangkat. Si misua disuruh ngurusin administrasi, sementara saya sama mama langsung digiring ke lantai dua a.k.a ruang bersalin. Saya langsung digantiin semacam baju untuk operasi/bersalin, tapi modelnya kayak daster, lucu deh :). Secara sugesti saya udah ngerasa tenang karena saya udah sampe di rumah sakit.

Saya dimasukin ke ruangan (yang kayaknya) buat nunggu bersalin. Di dalemnya ada beberapa tempat tidur dibatesin pake gorden. Di seberang tempat tidur saya, kayaknya juga ada ibu hamil yang lagi nunggu pembukaan. Trus salah satu bidan dateng ke saya dan bilang "cek dalem ya". Saya cuma bisa bengong sambil pasrah. Gimana caranya coba orang lagi pendarahan gitu mau cek dalem. Tapi ya ternyata kejadian juga :|. Dari rabaannya itu dia sempet bilang "wah iya nih udah pembukaan satu. nih janinnya berasa. kecil... panjang...". Saya udah gak sempet sedih lagi dia ngegambarin janinnya di depan muka saya. Saya udah cukup pasrah dan terheran-heran ngebayangin saya ngalamin pembukaan, "emang pembukaan 1 rasanya kayak apa ya? kok tiba-tiba udah pembukaan 1 aja".

Abis itu saya diukur tekanan darah: 100/69, suhu tubuh:36,5'C.
Kata salah satu susternya, dr. Achmad udah ditelpon. Dan kuret tetap mulai jam 6 pagi. Jadi artinya saya masih harus nunggu 1 1/2 jam lagi. Kesian mama, pasti ngantuk dan pegel banget itu :(. Gak lama setelah itu suster dateng bawa-bawa jarum infus, buat saluran bius saya katanya. Jujur ini pengalaman pertama saya dimasukin jarum infus yang besar itu. Agak deg-degan juga. Mana ternyata si suster 1 gak jago-jago amat lagi nyari nadinya, abis dia masukin jarumnya, tangan saya dipletat-pletot eh trus dia bilang, "yaaah lari nih nadinya". Yaaah capedeh... Jadinya percobaan pertama di tangan kiri gagal. Dia malah nyalahin tangan saya yang gemuk. siaul. Akhirnya masuk suster 2, yang nyoba di tangan kanan saya, gak sampe beberapa detik langsung dapet. Fiuh.

Jam 1/2 6 saya disuruh pindah tempat tidur dan didorong keluar dari ruangan yang tadi. Saya gak tau saya dibawa kemana, soalnya yang saya liat cuma langit-langit dan lampu, dan sesekali pintu yang saya lewati. Pas sampai di ruangan operasi saya disuruh pindah tempat tidur lagi ke 'tempat tidur operasi'. Disitu saya kepala saya dipakein sejenis 'shower cap' gitu, idung saya dipakein selang buat saluran oksigen, jempol saya dijepit buat tau denyut nadi kayaknya, tangan saya dipakein alat tensi darah yang mompa secara otomatis setiap beberapa menit sekali. Ruang operasinya dingin banget, badan saya sampe gemeteran karena kedinginan. Untung dikasih selimut sama susternya, tapi tetep aja masih gemeteran.

Jujur ini pengalaman pertama saya masuk ke ruangan operasi. Saya sendiri gak mau ngebayangin gimana nanti proses kuretnya. Teori saya, kalau cuma buat saya makin takut, buat apa dibayangin. Semakin takut biasanya rasa sakitnya semakin berasa, sebaliknya kalo kita tenang dan berpikir positif untuk sembuh, kita malah gak akan berasa apa-apa. Just a theory lho, saya kan suka sotoy :P.

Sekilas saya liat jam di dinding udah jam 6 kurang 10. Gak lama abis itu dr yang memperkenalkan dirinya sebagai dokter anestesi mulai masukkin beberapa cairan ke saluran infus saya. Dia bilang bakalan dingin, dan saya ngerasa tangan saya emang jadi dingin. Trus saya malingin muka saya ke lampu bulat raksasa yang di atas saya, abis itu saya mengedip.

Begitu buka mata, saya udah ada di ruangan lain. Kayaknya sih ruangan pemulihan. Suster-suster yang tadi masih ada, ngobrol. Di luar jendela juga udah mulai ada matahari. Tapi saya ngantuk banget, jadi saya tidur lagi. Setelah saya bangun kedua kalinya si suster bilang kalo operasinya udah selesai. Dan dia manggilin misua buat masuk.

Alhamdulillah semua berjalan lancar dan gak ada rasa sakit sedikitpun yang saya rasain. Bahkan efek obat bius yang katanya bikin pusing pun gak saya rasain. Cuma ngantuk aja. Rasanya bener-bener sekejap. Alhamdulillah ya Allah.

Saya pulang dengan membawa 3 obat dari resep dokter, 1 rangkap kuitansi untuk di reimburse, 1 bungkus maternity pad dan 1 lembar kertas keterangan istirahat yang diisi dokter untuk 1 bulan. Whoa... gimana cara bilangnya ya ke pak bos huhuhuhu. Begini nih kalo kerja di iklan. Beban mentalnya gede banget. Orang sering terheran-heran dan bilang "gila ya dedikasi lo ke kerjaan tinggi banget". Padahal mah sebenernya ini bukan masalah dedikasi, cuma emang mau gak mau aja. -__- macam kontrak batin aja, udah tau sama tau. Resiko kerja di iklan ya 70% hidup memang udah harus direlain buat kerjaan. Sekarang giliran kayak gini saya pusing 7 keliling deh. Boro-boro mikirin istirahat, saya lebih pusing gimana caranya bilang ke pak boss kalo saya harus cuti 1 bulan. Kalopun gak dipecat, mungkin saya bakalan dimusuhin orang sekantor kali ya, karena ngoper-ngoper kerjaan saya yang banyak itu ke mereka. Huhuhu. Maap ya jadi curcol.

btw,
proses kuret saya itu ternyata lebih murah dari yang saya kira. Lumayan, jadi gak keluar duit terlalu banyak. Sekitar 4,3 juta. Anehnya temen saya dikuret di tempat yang sama dengan dokter yang sama kena sampe 5,2 juta. Dan temen misua kena 5 juta. Saya gak tau deh beda di mananya.

Ini obat-obat yang harus saya minum:
Amoxsan - untuk antibiotik
Methergin - untuk infeksi
Tramal - untuk nyeri di perut
Ketiganya diminum 3x sehari sampai 3 hari.
Setelah itu saya kontrol lagi ke dr minggu depan, Jumat, 2 Juli 2010 jam 17.00.

Sementara ini sih saya katanya gak boleh banyak gerak, supaya gak memperparah sisa pendarahan. Huhu

When the Blood Flows





Sesuai dengan rencana semula, saya akan melakukan kuret hari Jumat, tanggal 25 Juni 2010, jam 6 pagi. Sehari sebelumnya saya dan misua udah cuti dari kantor dan mulai minum cytotec setiap 8 jam sekali, selama 3x dalam 1 hari. Kita berdua jaga-jaga aja, karena katanya efek cytotec di orang berbeda-beda. Kalo ternyata saya minum satu trus langsung pendarahan, artinya saya harus langsung buru-buru ke rumah sakit.

Saya minum cytotec jam 4 pagi, jam 12 siang dan jam 8 malem. Sesudah itu saya harus puasa selama 8 jam, untuk proses kuret jam 6 pagi keesokan harinya. Ribet ya?


Anyway,
Dari hasil minum cytotec yang pertama, belom terjadi reaksi apa-apa sama tubuh saya. Mungkin karena ngantuk juga kali ya, minumnya jam 4 pagi. Abis itu langsung tidur lagi dan bablas sampe besokannya. Mungkin kalopun ada mules-mules sedikit, langsung ketiban rasa ngantuk sih kayaknya.

Dari hasil minum cytotec kedua, jam 12 siang, perut mulai berasa aneh. Tapi bukan mules kayak mau 'dapet' seperti yang orang-orang bilang itu. Tapi lebih kayak orang sakit maag. Sakit nyedot di ulu hati, ditambah perut sebah, gassy, bawaannya kentut terus dan gelege'an. Berasa perut saya rasanya makin membesar dan keras karena banyak anginnya. Saya jadi bingung. Ini emang reaksi yang seharusnya, atau saya emang kebetulan lagi masuk angin aja ya?


Dari hasil minum cytotec yang ketiga, jam 8 malem, akhirnya keluar sedikit banget flek pas saya lagi pipis. Saya sambil sok tau mikir... "oh begini toh yang dibilang pendarahan itu". Saya pikir, insya Allah amanlah sampe besok. Akhirnya saya mules juga menjelang tidur jam 11an. Tapi emang mulesnya emang gak terlalu signifikan sih. Rasa sakitnya masih dalam itungan normal. Jadi akhirnya saya tidur aja. Gak lupa, saya juga pake pembalut, kali-kali darahnya semakin banyak.

Tapi tidur saya malem itu sebenernya gak terlalu nyenyak. Mungkin karena perut sebah tadi ya. Jadi di antara tidur, saya emang ngerasa darah ngalir keluar sedikit demi sedikit. Tapi saya pikir, kan saya pakai pembalut, jadi saya biarin aja. Tapi semakin malam, darah yang mengalir rasanya semakin banyak. Saya iseng meraba celana saya, dan ternyata jari saya sudah meraba darah. Saya langsung ke kamar mandi dan duduk di toilet. Semakin banyak lagi darah yang keluar, encer dan kali ini terasa ada gelembung-gelembung besar yang ikut keluar. Ini toh yang namanya pendarahan!

Saya panggil si misua, dan bertanya enakan langsung ke rumah sakit atau nunggu sesuai jadwal. Maklum saat itu sudah jam 3 pagi, sedangkan harusnya saya berangkat dr rumah jam 4 pagi, supaya sampai KMC jam 5 tepat. Beda waktunya hanya 1 jam, saya jadi bingung. Akhirnya saya coba sms dr. Achmad, tapi gak dibales. Saya coba ganti pembalut, kali ini lapis 3. Berharap kalo setelah ini pendarahannya mereda, saya bisa berangkat sesuai jadwal. Tapi ternyata gak sampai 5 menit, pembalut saya sudah bocor lagi. Ya sudah ga ada pilihan lagi, saya bangunin mama dan langsung bergegas ke KMC.

Friday 18 June 2010

This Time I Need You To Be Stronger Than Me

Mungkin ini sulit dipercaya, tapi 80% tindakan saya ini didasarkan dari feeling yang saya rasain.
Feeling yang saya rasain ini ngasih tau saya bahwa "ada yang gak bener sama kandungan saya". Feeling yang saya rasain ini, semakin berasa justru karena saya gak ngerasain perubahan fisik/mental yang signifikan selama kehamilan ini.

Ya mungkin saya ngerasain gejala-gejala awal kehamilan kayak susah pup, emosi naik turun, ngantuk, payudara membengkak, kram-kram kecil di perut dan pastinya berentinya haid. Tapi saya gak ngerasa mual ataupunmuntah, dan yang menurut saya paling penting, saya gak ngerasain adanya suatu kehidupan yang tumbuh di dalam perut saya.

Dan karena feeling itupun akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke dokter 2 minggu lebih awal dari yang seharusnya dijadwalkan. Karena sebelumnya saya dan misua sudah berniat untuk ganti dokter, akhirnya kita memutuskan untuk dateng ke dr Achmad Mediana di KMC.

Bener aja, setelah di USG luar dan dalam, dokter bilang bahwa janin saya gak berkembang. Kesimpulan ini bisa dilihat dari ukuran janin yang gak sesuai dengan usianya dan gak adanya denyut jantung di usia kehamilan 8 minggu. Dan katanya kista saya menghilang.

Entah kenapa, saya seperti udah ada yang ngasih tau duluan jauh-jauh hari sebelum saya dengar berita ini dari dr Ahmad. Tapi tentu aja saya tetep mau positive thinking dulu dan memilih untuk gak cerita-cerita tentang kegelisahan saya ini, sebelum saya dapet konfirmasi resmi dari dokter.

Jadi ketika saya denger berita ini, saya udah gak kaget lagi. Pak dokter menyarankan saya kuret begitu saya sudah siap nerima kenyataan ini. Dia juga mempersilakan kita untuk nyari 2nd opinion kalo masih gak puas sama kesimpulan yang dia ambil. Tapi entah kenapa saya sudah sangat yakin dan pengen segera dikuret. Yang membuat saya menunda tindakan kuret bukan karena saya belum terima janin ini gak berkembang. Tapi justru karena beban mental yang harus saya tanggung ketika saya harus ngasih tau semua orang termasuk keluarga, teman dekat, kantor dan semua orang di dunia ini.

Berat rasanya harus menyampaikan berita buruk ke berbagai orang yang berbeda, berulang-ulang kali. Belum lagi meladeni reaksi-reaksinya. Misua di lain pihak kelihatan lebih terpukul dibanding saya. Mungkin karena kehilangannya itu sendiri, tapi juga mungkin karena biaya kuret yang ternyata lebih mahal dari dugaan. Bukannya saya gak ngebolehin dia untuk terpukul. Tapi saya gak menangis, bukan berarti saya gak sedih lho, dan bukan berarti saya gak butuh dukungan. Biar gimanapun juga saya butuh orang yang lebih kuat untuk menopang mental saya, karena toh nantinya saya juga yang harus merasakan kuret, apapun itu rasanya nanti. Kalau bukan dia yang memberi saya kekuatan, siapa lagi?

Untungnya proses mengunci diri misua gak berjalan terlalu lama. Setelah itu akhirnya kita bisa membuka diri dan memilih untuk menangis bersama di dalam pelukan. Dengan begitu, semua terasa lebih ringan dan solusi pun datang bermunculan satu per satu. Alhamdulillah.

Ternyata biaya kuret akan diganti kantor saya sebesar 80%, alhamdulillah itupun membuat 80% kekhawatiran kita sirna :'). Kita memutuskan untuk melakukan kuret pada saat gajian, tepat seminggu dari hari ini. Setidaknya kalau ada biaya-biaya yang tidak terduga, kita bisa lebih siap (walaupun katanya kakak ipar mau minjemin uangnya dulu). Dan waktu misua untuk nemenin saya juga lebih banyak karena dilakukan di hari Jumat. Sementara itu saya tetep ngantor seperti biasa dan berusaha nyelesain PR-PR di kantor sebelum saya tinggal cuti.

dr. Achmad ngasih saya resep untuk diminum sehari sebelum saya mutusin untuk kuret. Namanya cytotec. Katanya obat ini untuk bikin pendarahan, jadi nanti proses kuretnya bisa lebih mudah. Fiuhh... ngebayanginnya ntar aja deh.

Ya Allah, kalau memang ini yang terbaik, saya ikhlas kok :)

Thursday 17 June 2010

There's Always a First Time for Everything

Hari ini adalah hari yang penuh cobaan. Ga tau harus mulai dari mana. Bener-bener seharian kepala ini mendidih rasanya. Semua orang (gak talent, gak PH) sibuk cari muka ke client sampe-sampe kita sebagai agency udah gak ada lagi wibawanya di mata mereka. Bener-bener gak dianggep. Baru kali ini... Baru kali ini... Dan mudah-mudahan kali ini aja ya Allah. :{

Pagi-pagi saya recording radio di IM PRO. Sesi pertama dimulai dengan talent si ibu. Hmmph... si ibu ini entah kenapa sibuk cari muka sama client saya dan gak mandang saya sama sekali. Tiap kali saya mau nge-direct dia, dia selalu ngejawab dengan nada nyinyir. Huwaaaa... baru sekali saya diginiin sama talent!!! Dia pikir saya anak magang yang lagi maen-maen di kantor orang apaa? Si client juga malah keasikan sama job desc barunya, asik-asik ngedirect talent. Tau gini mah saya tidur aja di rumah!

Talent kedua adalah VO talent tersohor yang kondang karena ngisi acara kuis legendaris di tv jaman dahulu kala. Mungkin karena sangking terkenalnya, dia merasa berhak untuk ngerubah-rubah script radio saya seenak perutnya, dan tentunya langsung ngomong ke client tanpa minta persetujuan saya. Waow. Ini bener-bener recording radio terajaib yang pernah saya alami. Dan tolong ingetin saya besok-besok untuk gak make dia sebagai VO talent. Karena walaupun suaranya kayak emas, tapi attitudenya bener-bener minusssss. Kepala saya rasanya bener-bener panas. Susah banget manage emosi kalo lagi hamil begini. huhuhu.

Untungnya talent ketiga, which is si pemeran utama iklannya, lebih manageable dan kooperatif. Dia mau ngikutin direction saya dan masih mau usaha untuk mengerti mau saya. Dan yang terpenting dia ramah dan gak sombong kayak talent-talent sebelumnya. Ya ampun saya cuma bisa tarik napas panjang-panjang dan istighfar banyak-banyak.

Sehabis recording, saya langsung ke post house di Eltra untuk ngelanjutin proses online tvc. Kayak masih kurang penderitaan saya hari ini, baru masuk ruangan online, saya langsung disamber sama salah satu pegawai botak berseragam hitam yang namanya gak tau siapa itu.
Jadi ceritanya dia lagi ngerokok di dalem ruangan itu. Begitu saya masuk, ada yang bilangin dia buat matiin rokok karena ada yang lagi hamil. Eh bukannya dimatiin, dia malah komen "aaah ga apa-apa kali asep rokok! Bayinya malah sehat. Dulu istri saya bla bla bla bla" saya berusaha untuk gak denger sisa ocehan dia karena takut saya kelepasan ngambil gelas dan ngelempar ke muka dia. Walaupun akhirnya dia matiin rokoknya, menurut saya kejadian tadi bener-bener gak termaafkan dan saya bener-bener semakin gak tau gimana caranya buat ngeredam rasa marah ini. Akhirnya saya keluar ruangan aja buat ngademin kepala.

Kebetulan di ruangan audio lagi pada dubbing. Jadi saya masuk situ aja dan berusaha untuk ngalihin pikiran. Eh ga lama abis itu saya dipanggil balik ke ruangan tadi.

Ternyata radio yang tadi lagi dipresentasiin ke big boss dan ternyata si big boss ga suka sama hasilnya. Buat saya, selama yang komen itu masih client, saya masih bisa terima walaupun mungkin hasil yang gak maksimal itu juga banyak faktor dari clientnya, misalnya: segala informasi mau dimasukin jadi satu di situ semua.

Tapiiii... si botak seragam item tadi tiba-tiba nyerocos ga berenti-berenti ngomenin radio saya, padahal gak ada yang nanya pendapat dia. Ya ampuuuun dia itu siaaapaaaa??? Dia itu ga ada hubungannya sama pembuatan radio. Kalo dia mau ngomenin tvc masih wajar deh, karena PHnya juga sama-sama pake seragam item kebanggaannya itu kayak dia. Tapi radio kan sama sekali bukan urusan dia. Ya ampuuuun kenapa sih orang-orang berseragam item ini attitudenya mengerikan bangettt?

Ya Allah, saya bener-bener nyerah deh hari ini. Ini pertama kalinya dalam proses pembuatan tvc dan radio, agency bener-bener gak dianggep sama PH dan talent-talentnya. Dan mudah-mudahan cukup sekali ini aja ya. Saya kapok. Hiiiiiiieeh

Thursday 10 June 2010

Best Meal Ever

Selama hamil beberapa minggu ini saya jadi punya beberapa penemuan baru tentang makanan.

kalo enak dan murah, pasti gak sehat
kalo sehat dan murah, pasti gak enak
kalo sehat dan enak, pasti mahal

Jadi tentu aja, saya semakin stress buat milih makanan. Gak nyangka buat makan aja saya bisa se-stress ini. Padahal dulu segala macem makanan dimakan, gak pake mikir dua kali. Udah kayak tong sampah aja. Kalo gini baru nyadar, ternyata makanan yang selama ini saya makan kagak ada yang bener heheu.

Jadi ceritanya sore tadi temen-temen kantor saya pada ngajakin makan steak di Meat Me - Kemang. Saya mah udah ngiler banget pengen ikutan. Tapi pas nanya misua dia kayak gak seneng gitu. gak tau deh apa karena steak itu bakar-bakaran atau karena steak itu mahal harganya. Tapi dua-duanya make sense sih. Cuma gara-gara itu saya jadi stress sampe pengen nangis. Masa sih mau makan enak aja sampe sesusah ini. Kalo gak karena kandungannya yang ga bagus buat saya, ya karena harganya yang ga bagus buat kantong saya. huhuhu... sediiiih banget rasanya :(

Untungnya abis itu temen saya yang lain, Icha, Aldi, Amoy ngajakin makan ke Sushi Tengoku. Buru-buru saya ngambil dompet dan ngikut mereka tanpa mikir dua kali. Tentu aja saya gak makan sushi yaaaa... Saya langsung mesen salmon teriyaki set dan chawan musi untuk ngobatin rasa sedih dan lapar yang tercampur aduk di hati saya. Dan alhamdulillah, makanan berharga itu membayar semua kemurungan saya hari itu. Rasanya ini adalah makanan terenak yang saya makan selama saya hamil.

Emang sih mahal, tapi saya dapet potongan salmon yang gede banget. Dan saya tau salmon itu bagus buat si com-com. So that makes all the penny worth to spend.

I know I can't eat like this forever, so that's why I'm being so grateful. Thank You God. :)

Wednesday 9 June 2010

End of Shooting Day

Hari ini syuting hari ketiga.
Thanks to my generous boss, hari ini saya juga boleh dateng setengah shift. Dan berhubung lokasi keduanya di Carrefour Bintaro sektor 9, jadi saya standby di rumah sampe mereka ngabarin pindah lokasi.Tapi ternyata shift pertamanya agak banyak hambatan, jadi yang rencananya pindah lokasi after lunch, ternyata baru kejadian setelah maghrib. Jadilah saya baru beranjak keluar rumah jam 6 malam. Trus karena itu juga saya jadi bisa maen-maen sama keponakan seharian. :)

Take terakhir jam 9an. Trus kita mutusin untuk gak ikutan makan malem bareng PH dan makan iga bakar bintaro ajah di 9walk.

Way to go to please my tummy :)
Yum!

Tuesday 8 June 2010

a Treat of Baskin Robbins

Hari ini hari kedua syuting. Dan alhamdulillah, jauh lebih baik dibanding kemarin.
Anginnya kenceng banget sih, sampe rambut berkibar-kibar. Tapi syutingnya lebih lancar. Mungkin mereka ngerjain pe-er juga kali ya. Semacam evaluasi harian gitu. :p Pak sutradara keliatan lebih in-charge dan PD sama shot-shot yang dia ambil. Timnya juga lebih ramah dan kooperatif. Jadi kita juga jadinya lebih tenang.

Senangnya dapet pregnancy privilege, dateng syuting boleh setengah shift, kemana-mana selalu dapet tempat duduk dan pulangnya ditraktir Baskin Robbins hehehehe.

You see baby, not all days are bad.
It's not that hard to enjoy life :)


Sekarang bobo yuk. Besok syuting hari terakhir lho ;)

Monday 7 June 2010

Because Life is About Struggling, Baby

Hari ini lumayan berat buat saya.
Yep, ini syuting hari pertama. Saya harus bangun jam 4 pagi untuk sampe di lokasi syuting tepat jam 7 pagi di Cibubur. Dan kali ini saya harus berhadapan sama PH yang... 'ya gitu deh'... jadi kayaknya bakal banyak menghela napas panjang nih seharian.

Agency call-nya sih katanya jam 7 pagi, tapi pas kita sampe sana ternyata belon ada siapa-siapa. Baru ada produsernya seorang dan mobil box berlogo stasiun tv kebanggaannya itu. Gak lama sutradara dateng dengan muka yang polos, tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun. 15 menit kemudian kru berseragam lainnya baru pada dateng. Trus kita digiring untuk sarapan di dalem rumah. Okelah ngikut aja. Pas kita makan, saya kira mereka nyiapin setting. Tapi ternyata mereka ikutan makan juga dengan santai. Selesai makan, saya kira mereka akan langsung nyiapin set, ternyata belom juga... sang sutradara malah asik nonton nba. Sungguh saya bingung harus berkata apa melihat kejadian ini. *__* Akhirnya 1st take dimulai jam 9.30. Monitor buat preview kagak bisa nyala. Jadi kalo mau liat previewnya musti liat lgs dr kameranya... weleh. this is gonna be a loooong day! Huhuhuhu

Saya berusaha nyari comfort zone aja. Yang penting nempel sama kursi dan ngemil kalo laper... untung makanannya lumayan banyak dan enak. Perut saya tegang seharian, kata orang-orang sih harusnya gak boleh sampe tegang gini. Makanya saya stress. :(

Ini adalah hari pertama saya ngerasain hari yang bener-bener berat selama ngejalanin kehamilan. But you know baby, life is about struggling. Ini yang kita lakukan untuk bertahan hidup. Jadi kamu juga harus struggle juga ya com. :)

btw, besok kita dapet kompensasi lho! Kita boleh dateng syuting abis makan siang, Jadi kita bisa istirahat yang cukup nih. :) Sleep tight, baby!

Sunday 6 June 2010

Lay Low

Sahabat saya si Lendra , baru aja pulang dari Australia dan akhirnya mau nyari peruntungan nasib di Jakarta. Tadinya saya mau ketemuan sama dia dan temen-temen saya yang lain. Tapi berhubung misua harus lembur, dan saya lagi males pulang pergi naek taksi, akhirnya saya memutuskan untuk di rumah aja deh. Lumayan menghemat uang taksi, belom lagi capenya. Jadi tadi sebelom misua berangkat kerja, akhirnya ke ke Poins Square dulu beli DVD. DVD memegang peranan penting dalam berhemat: bisa menahan hasrat untuk nonton bioskop, ataupun kelayapan di mall :p. Abis itu saya juga nyobain sari kurma yang merknya Durra. Waktu itu papa saya pernah dikasih itu sama temennya dari Arab, katanya dia udah nyobain dan efeknya oke. Tapi barangnya susah dicari. Eeh taunya nemu di Poins Square. Coba deh!


btw,
Besok saya syuting nih. Jujur saya deg-degan banget. Mudah-mudahan lancar ya, dan si com-com juga bisa ikutan asik. Oke com? Pegangan yang kuat ya! ;)

Saturday 5 June 2010

Nutritious Fooood! Om Nom Nom Nom!

Weekend ini judulnya saya mau istirahat full. Jujur aja saya agak deg-degan, senen besok saya mau syuting di Cibubur. Kalo dalam keadaan normal sih, syuting biasa aja saya hajar. Tapi kalo lagi hamil muda gini, saya jadi parno. Takutnya saya kuat-kuat aja, tapi ternyata perutnya enggak kan agak repot tuh jadinya. Belom bisa ngukur limit dengan keadaan saya yang baru ini. Jadi mending saya kumpulin tenaga dulu deh sekarang, supaya palling engga, kalopun nanti cape, fisik saya masih kuat.

Misua ke kantor wiken ini, jadi saya sendirian aja di rumah :p
Senangnya hari ini, saya akhirnya bisa makan makanan rumah yang kaya akan gizi. Saya rasa mungkin ini jawaban yang saya cari-cari kali ya, saya harus bawa bekel dari rumah setiap hari. Harganya murah, pasti sehat dan cocok sama lidah saya. Tapi tetep aja sih, makan tanpa kehadiran cabe bikin saya sedih. Kangen banget :'(

btw,
Saya kepikiran untuk ganti dokter deh ke dr. Ahmad Mediana. Dia itu dokter kakak ipar saya untuk anak keduanya. Dan banyak juga temen-temen saya yang saya denger make dia juga. Keliatannya dia lebih talkative dan mau ngejelasin. Jujur saya butuh banget dokter yang kayak gitu. Karena saya ini orangnya bodor, suka lupaan dan ga pedean. Jadi pengennya juga dapet dokter yang ngemong. Ga bisa tuh saya ketemu sama dokter yang ogah ngomong. Si pak dokter ini praktek di RS Gandaria, Kemang Medical Care dan di rumahnya di Kemang. Cuma sayangnya, karena dia lagi naik daun banget, bikin appoinmentnya kudu jauh-jauh hari sampe seminggu atau 2 mingu sebelumnya. Ya coba dulu deh. Sekarang saya lagi mau banding-bandingin biaya konsultasi antar rumah sakit aja dulu. Nanti insya Allah bulan kedua, saya baru konsultasi ke sana. Sabar ya com :)

Friday 4 June 2010

Trying to Find the Comfort Zone

Hari ini hectic banget.
Saya harus ikutan workshop foto untuk packaging dan studionya amat sangat jauh dari kata bagus :(. Tempatnya di gudang/garasi kantor orang, keliatan jarang didatengin orang, bedebu dan gelap. huhu. Mungkin karena saya juga tegang, perut saya juga jadi ikutan kenceng dan kram-kram kecil itu juga dateng lebih sering. Belom lagi karena jam pulang kantor, kita harus keluar ke jalan raya buat nyari taksi pulang. Hari ini saya gak betah banget, capek. Pengen buru-buru pulang dan ngebayangin kasur empuk dan si bantal merah. Tapi ternyata si misua harus lembur. Jadi pulang dari workshop, saya harus pesen taksi lagi dari kantor buat lanjut ke rumah.

Pas sampe rumah ternyata krucil-krucil keponakan saya itu masih pada bangun. Jadilah saya maen-maen sama mereka dulu. Lucu banget deh, mereka excited banget denger saya lagi hamil. Tas saya langsung dibawain ke kamar, trus mereka malah berantem berdua, rebutan jenis kelamin si com-com. halah :D

Si misua sekarang keliatan lebih rileks, alhamdulillah. Udah mulai bisa senyum dan ngelus-ngelus perut saya. Ini dia support yang saya tunggu-tunggu dari kemarin. Begini aja udah cukup buat saya sekarang. :) Makasih ya Allah.


btw,
Saya baru tau kalo tes TORCH itu mahalnya selangit! Mahalnya sampe juta-jutaan, saya sampe ngilu sendiri denger angkanya. Tapi tenang aja ya com, insya Allah ada jalannya :) yang penting kamu sehat.

Thursday 3 June 2010

Go Public

Oke, saya sendiri kadang masih gak percaya kalo saya ini hamil. Berikutnya, saya harus ngasih tau orang kalo saya ini hamil.

Mengenai siapa aja yang perlu tau tentang kehamilan ini, sebenernya saya agak selektif. Keluarga inti pastilah langsung dikasi tau begitu pulang dari dokter. Tapi sisa orang di dunia ini, kayaknya dikasi taunya ntar-ntar aja kali ya. Bukannya kenapa-kenapa, tapi saya takut kecepetan ngumbar-ngumbar berita. Soalnya kan masa-masa 1st trimester ini katanya masa rawan banget, enaknya sih nyebar-nyebar berita kalo udah 'kuat' aja kali yaaa.

Tapi masalahnya minggu depan saya ada syuting 3 hari berturut-turut, yang pastinya bakal disusul dengan deretan offline dan online di hari-hari berikutnya. Belum lagi kerjaan saya dengan client lain di kantor juga menunggu. Kalau saya gak bilang saya lagi hamil muda, bisa-bisa saya di-abuse seada-adanya. Jadi orang yang perlu dikasi tau setelah keluarga dan teman dekat adalah: orang kantor.

Senangnya, ternyata teman-teman saya di kantor itu sangat antusias denger berita baik ini. Semua pengen denger cerita saya dari awal tau sampe sekarang. Dan ternyata, bercerita membuat saya semakin yakin kalo hal ini adalah nyata, hahaha. Maaf ya, tapi momen-momen ini emang terasa surreal banget buat saya. Dengan bercerita dan melihat orang antusias ngedenger cerita saya, jadi bikin saya makin semangat dan 'percaya' kalo saya ini emang bener-bener hamil dan semuanya akan berjalan dengan lancar. Saya bersyukur banget masih punya temen-temen yang bisa diajak berbagi kesenangan. Bener deh, terharu banget :').

Si misua, di lain pihak, keliatan agak aneh dan tegang. Mungkin langsung kepikiran duit kali ya. Kalo dia kepikiran, ya saya juga kepikiran juga deh jadinya. Trus saya bisa apa? Sedih sih jadinya. Selama ini dia justru yang keliatan gak sabar pengen punya anak. Tapi ternyata setelah pulang dari dokter, saya gak pernah liat dia yang bener-bener excited juga. Padahal saya justru lagi butuh-butuhnya dukungan mental. Mudah-mudahan saya gak harus 'sendirian' selama 9 bulan ya. I need you misua. :(

btw,
Ternyata selama 27 tahun, saya makan junk food saban hari haha :D
Jadi saya harus nyari makanan bergizi yang murah, enak dan praktis mulai sekarang. Trus harus ngumpulin duit ekstra buat beli susu hamil dan buah-buahan. Oke, itu tandanya saya masih banyak pe-er untuk nyesuain duit bulanan. Tapi gpp deh, semua yang terbaik buat si com-com ini akan saya usahakan sebisa saya. Jadi jangan khawatir ya com-com, insya Allah ada jalannya ya :)

Wednesday 2 June 2010

Our First Visit to The Doctor


Saya lumayan tenang pagi itu...
Udah kebayang sih bakal ditanyain apa aja sama susternya, kebayang muka dokternya dan para pasien lainnya yang pastinya pada sinis liat saya. Bukan karena saya cantik kayak supermodel loh. Tapi karena muka saya dan misua masih kayak abg labil :D. Salah-salah orang bisa aja ngirain kita MBA. Tapi untungnya bukan yaaa, jadi lebih siap mental deh buat diliatin dan ditanyain macem-macem :p.

Kita sepakat buat dateng ke dr. Sumanadi di RSPI. Dia adalah dokter yang ngelahirin 3 dari 4 keponakan saya, dan 1 dari 2 keponakan misua. Jadi untuk masa-masa 'gak sabar cari konfirmasi' gini, kita pikir gak usah terlalu picky dululah cari dokter, yang penting terbukti aman dan jadwal prakteknya memungkinkan.

Pas dateng, udah ada 2 pasien yang nunggu. Saya langsung ke meja registrasi, nemuin susternya...

Suster: Ya, bisa saya bantu?
Saya: Eerrr.. mau cek kehamilan mba

Suster: Sudah menikah?
Saya: Udah

Suster: Udah berapa lama?
Saya: Umm kurang lebih 1,5 tahunlah mba

Suster: Usia?
Saya: 27

Suster: Terakhir menstruasi kapan?
Saya: Mmmm... Lupa! Heheu

Suster: Udah coba pake test pack?
Saya: Udah

Suster: Hasilnya?
Saya: Positif

Suster: Coba ditimbang dulu ya.. (ternyata 55kg!). Emang gak berasa mba timbangannya naek? *sambil senyum-senyum
Saya: Saya emang makannya banyak sih mba. Jadi saya kira emang naek aja. :P

Suster: *ngecek tensi darah. 110/70 ya. Nanti tunggu dipanggil ya mba
Saya: Oke

hi there, baby
nice to meet you :)

Setelah nunggu sekitar satu jam-an, akhirnya saya dipanggil masuk ke dalam ruangan pak dokter. Di dalamnya ada meja konsultasi dan tempat tidur setengah duduk. Di sebelah tempat tidur ada sebuah mesin gede, yang saya rasa adalah mesin usg. Dokternya belom ada, baru susternya. Dia nyuruh saya untuk langsung berbaring di tempat tidur itu.

Nungguin dokternya dengan posisi pasrah kayak gitu bikin makin deg-degan aja. Untung gak lama abis itu dokternya dateng. Langsung naro gel ke alat yang mirip scanner supermarket itu, trus ditaro ke perut saya. Entah apa yang ia lakukan, saya sebenernya masih gak mudeng... klik sana, klik sini ... trus langsung bilang... "iya nih, bener kamu hamil. Tuh udah ada kantongnya, titik di dalem situ itu yang bakal jadi calon janinnya" kata si dokter sambil ngarahin kursor di layar.

Yang ada saya cuma bisa bengong. Bukannya gak seneng... cuma bener-bener speechless, gak nyangka hal seperti ini bakal nyampe juga ke pangkuan saya. Yang selama ini cuma ngayal-ngayal doang "what if, what if"... sekarang bener-bener kejadian dan saya ternyata gak ngerti harus berekasi kayak apa. This is really happening... wake uuuup!!! :D

Si dokter menyadarkan saya dari kebengongan "udah jalan 6 minggu nih, selamat ya!". Trus bodohnya satu-satunya kalimat yang keluar dari mulut saya justru "serius nih dok?" hahahaha. Saya kira saya bakalan menangis terharu sambil memegang erat tangan misua kayak di pelem-pelem. Ternyata jauh sekali dari perkiraan... hahahaha. Si dokter trus ngasih resep obat Premaston 5mg untuk memperkuat kehamilan dan Folic Acid buat merangsang pertumbuhan sel otak dan alat-alat vital lainnya. Dia juga ngasih surat pengantar untuk cek darah. Kalo ngeraba-raba tulisannya sih, kayaknya tes TORCH dll itu sih. Saya pun nurut-nurut aja, mengangguk-angguk dan melengos pergi sambil bilang terima kasih. Segitu banyak pertanyaan yang saya kira bakal saya tanyain ke dokter, buyaaar semuanya.

Beginilah nasib amatiran -___-
Besok-besok harus terlihat lebih profesional ah.


btw, ternyata pas usg, si dokter nemuin kista di rahim saya. Katanya sih ukurannya relatif kecil, 3 cm dan gak berbahaya, jadi gak akan mengganggu. "Nanti bisa sambil dipantau juga kok" katanya. Dia sih keliatan santai-santai aja, walaupun saya sempet syiok dan campur aduk rasanya, karena nerima dua berita baik dan gak begitu baik dalam waktu yang bersamaan. Tapi let's be positive aja deh ya. Insya Allah memang bener ga apa-apa :).
Bismillah.

Balada 4 Test Pack





Seperti hari-hari biasanya, saya gak ngerasa ada yang aneh di hidup saya. Ngantor jam 10an, pulang jam segituan lagi. Sesekali pergi ngaso-ngaso sama misua dan teman-teman buat ngelepas stress di tengah minggu, ataupun di akhir minggu. Satu-satunya kejanggalan saat itu, saya belom 'dateng bulan' lumayan lama. Kalo diinget-inget nyampe sebulananlah saya skip 'menstruasi'. Tapi itu juga sebenernya gak janggal-janggal amat sih. Soalnya saya emang gak pernah teratur kalo 'dapet'. Jadi kalo telat sebulan, saya biasanya masih cuek-cuek aja.

Tapi gak tau kenapa. Dibilang feeling juga kayaknya engga sih. Tapi mungkin emang karena belakangan ini saya emang udah pengen banget punya anak. Udah mulai khawatir, karena udah kawin 1,5 tahun, orang tua juga udah grasak grusuk, malah udah sempet niat mau ke ob-gyn segala untuk konsultasi. Engga ada angin atau hujan, entah kenapa saya diam-diam memutuskan untuk membeli pregnancy test. Bahkan misua pun gak saya bilangin, karena takut tengsin kalo ternyata saya hanya sugesti berlebihan aja. Saya beli 2 pak hCG, yang kata orang-orang paling akurat.

Pagi-pagi langsung saya coba di kamar mandi. Sambil deg-degan saya tunggu hasilnya. Muncul tanda positif yang sangat samar di salah satu jendelanya. Saya sempat gemetar, karena gak pernah sekalipun terpikir untuk ngebayangin ekspresi saya kalau dapet hasil test positif. Cuma bengong aja. Saya sempat tertegun lama di kamar mandi, misua masih tidur. "Kalo iya gimana? Kalo engga? Tau sendiri badan saya aneh gini, siapa tau false alarm"... masih denial, kalau saja menstruasi saya teratur, pasti saya langsung percaya sama hasil test ini. Akhirnya saya nyoba test pack yang kedua dengan merk yang sama. Hasilnya pun sama.

Akhirnya saya pun kecapean semedi di kamar mandi dan keluar ngasih tau misua. Saya ngasih taunya dengan nada se-cool mungkin. Karena saya gak mau ngasih harapan kosong, kalo ternyata salah dugaan. Si misua juga ternyata jawab dengan nada yang gak kalah coolnya "Ya udah, besok kita ke dokter aja ya".

Dasar saya orangnya gak pedean, saya beli lagi lho 2 pregnancy test. Kali ini yang satu merk hCG, yang satunya merk Sensitif. Maksudnya mau saya test lagi besokan paginya sebelum ke dokter. Kali-kali ternyata false alarm, jadi gak perlu tengsin-tengsin ke dokter. Tapi kalo ternyata positif, ya buktinya udah akurat banget kan tuh sampe 4 test pack :p

Ternyata dua-duanya positif. Lagi-lagi saya gemeteran, tapi kali ini sambil tersenyum. "Insya Allah ya, mudah-mudahan ya Allah".

Berangkatlah kita ke pak dokter. :)